Pada kesempatan kali ini, tema tahunan menjelang peristiwa Isra’ Mi’raj kembali dibahas oleh Mursyiduna. Menurut Beliau, ini sangat penting untuk kembali dibahas karena bertujuan untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Percuma kalau membahas sebuah peristiwa besar seperti Isra’ Mi’raj setiap tahun tetapi tidak mampu menumbuhkan semangat beribadah dan keyakinan kepada Allah SWT. Apalagi memahami peristiwa tersebut hanya pada tataran syariat yang menceritakan perjalanan nabi dari Masjid Haram Makkah menuju ke Masjid Aqsa yang berada di Palestina kemudian di Mi’raj kan ke Sidratul Muntaha dimana pada setiap tingkatan langit Nabi berjumpa dengan para Nabi dan seterusnya. Tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana kita memahami tentang peristiwa ini dalam perspektif hakikat dengan menyibak rahasia-rahasia hikmah didalamnya. Karena puncak perjalanan suci ini menjadi fase penting dalam karir Nabi Muhammad SAW disaat Beliau menerima perintah ibadah Sholat.
Di ayat pertama surat Al-Isra’ tersebut Allah mengawali kalimatnya dengan bertasbih:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Kisah tentang perjalanan suci ini hanya Allah jelaskan dalam satu ayat saja, tetapi sekalipun satu ayat tetapi memiliki kandungan yang begitu luar biasa karena ditopang dari penjelasan dari hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Salah satu pembeda, ketika sebuah peristiwa dikaji oleh orang-orang yang telah mencapai derajat “Khowash” maka kejadian tersebut akan memiliki sejuta hikmah dengan kedalaman yang begitu luar biasa, apalagi kisah perjalanan ini penuh dengan hal-hal Ghaibiyah maka hanya imanlah yang menjadi tolok ukur dalam menerima semua kisah didalamnya selain itu yang mampu membuka tirai rahasia tentu hanya orang-orang yang telah Allah karuniai ilmu Kasyf.
Peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW disaat Rasul mengalami puncak kesedihan dengan ditinggalkan oleh kedua orang yang menjadi benteng pertahanan dakwah Nabi, yaitu pamannya Abu Thalib dan istri tercinta Sayyidah Khadijah. Kedua orang inilah yang menjadi tumpuhan Nabi disaat banyak hujatan, permusuhan bahkan perlawanan yang dilakaukan oleh para Kafir Quraisy. Dengan meninggalnya kedua tokoh ini, maka tahun-tahun tersebut disebut dengan “Ammul Huzni” atau tahun kesedihan. Atas dasar itulah sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Nabi mendapatkan sebuah penghiburan dari Allah dengan diperjalankan ke Sidrotul Muntaha. Asumsi dan pendapat ini ditentang oleh Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi, menurut Beliau perjalanan ke Sidrotul Muntaha yang dialami oleh Nabi bukan karena sebuah hiburan atas kesedihan yang dialami Nabi tetapi karena memang Nabi sedang mengalami puncak spiritual dengan ujian-ujian yang luar biasa terutama dengan ditinggalkan kedua orang yang sangat dicintainya.
Dalam konteks kekinian, Isra’ Mi’raj tidak hanya menjadi sebatas sebuah hikayat semata tetapi mampu menjadi tolok ukur bahwa perjalanan yang dilakukan manusia sejatinya adalah perjalanan yang bersifat horizontal dan vertikal. Horizontal adalah gambaran perjalanan kehidupan manusia sejak dilahirkan sampai detik ini dan terus berlanjut hingga kembali kepada Tuhan dan vertikal adalah gambaran pencapaian ruhani dalam berkomunikasi dengan Allah SWT. Rasulullah Muhammad memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana komunikasi seorang hamba kepada Rabb nya melalui ibadah sholat. Dalam sebuah hadits dikatakan “Sholat adalah Mi’raj nya orang beriman”.
