Menapaki Jalan Suluk

            Bismillah, Senantiasa bersyukur kepada Allah dan juga berusaha selalu mempertautkan hati kepada Rasulullah melalui kiriman Sholawat kepadanya. Dalam kesempatan kajian malam jumat ini, Mursyid kembali mengulas beberapa poin penting sebagai seorang Salik dalam perjalanan Suluknya menuju Sang Khaliq. Dalam momen Rajab ini, kembali kita diingatkan bahwa bulan yang sacral bagi kita disebabkan ada sebuah peristiwa dimana Rasulullah diperjalankan oleh Allah untuk sebuah misi penting yaitu menerima perintah ibadah sholat. Sholat adalah satu-satunya ibadah yang proses perintahnya tidak lagi melalui perantara, tetapi Allah secara langsung memberikan mandate kepada manusia suci tersebut yang harus didampaikan kepada umatnya.

            Bagi seorang Salik, berkholwat adalah sebuah keniscayaan. Kholwat dalam perspektif tasawuf berbeda dengan khalwat dalam perspektif fiqih, apalagi oleh sebagian golongan yang dianggap haram sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Di hadits yang lain, Nabi juga mengatakan:

ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad dari hadits Jabir 3/339.

            Khalwat dalam pengertian fiqih atau hadits nabi memang dikonotasikan sebagai sebuah perilaku maksiat, karena konteksnya adalah berdua-duaan dengan lawan jenis tanpa mahram. Tetapi tidak dengan perspektif tasawuf, justru dengan berkhalwat manusia semakin memahami hakikat dirinya, semakin mengenal siapa dirinya dan tujuan proses penciptaannya. Melalui khalwat seseorang semakin tenggelam dalam lautan Makrifatullah, karena dengan khalwat manusia semakin intim kepada Rabb nya. Khalwat dapat diartikan Uzlah, Infirad dan Tahannus adalah sunnah nabi yang terlupakan, karena hamper semua Nabi pernah melakukan khalwat dengan cara dan metode sesuai denngan kondisi zamannya. Sebut saja Nabi Musa yang berkhalwat selama 40 hari di bukit Tursina, Nabi Zakaria yang berkholwat tidak berbicara selama tiga hari, Maryam juga demikian bahkan Rasulullah SAW pun telah berkhalwat sebelum diangkat menjadi seorang Nabi ataupun setelah diangkat menjadi Nabi. Ini artinya bahwa Khalwat adalah sunnah para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW.

            Jika Nabi Muhammad di bulan ini di perjalankan oleh Allah melalui peristiwa Isra’dan Mi’raj maka salah satu bentuk ikhtiarnya Mursyid adalah dengan cara mengkhalwatkan para muridnya. Karena hakikat khalwat adalah perjalanan ruhani yang dilakukan oleh para Murid dalam rangka mengenal diri dan Tuhannya. Sholat adalah dimensi dimana seseorang diharapkan mampu memi’rajkan ruhaninya, sebagimana sabda Nabi Sholat itu Mi’raj nya orang-orang beriman. Sehingga diharapkan dengan sholat manusia dapat merasakan Musyahadah dan Muroqobah yang dapat melahirkan Akhlaqul Karimah dalam kehidupannya.

            Dalam berkhalwat, Syaikhuna KH. Sa’adih juga mengingatkan bahwa jangan terfokus kepada akal saja dalam memahami ayat-ayat Allah, jadikan akal sebagai jembatan untuk lebih mengantarkan kepada nilai-nilai ketuhanan. Memaksimalkan kerja hati adalah sebuah keniscayaan, karena dengan mengerahkan semua potensi baik yang dimiliki oleh hati manusia mampu menguak rahasia-rahasia ketuhanan. Melalui hati seorang yang beriman pula, Allah akan bersemayam didalamnya. Dalam tradisi tarekat, berkhalwat adalah bagian yang tak terpisahkan dengan amalan-amalan yang diajarkan oleh para Mursyidnya. Hari ini, tradisi khalwat nyaris sedikit sekali yang mampu melakukan. Disamping dibutuhkan sistem yang baik, biaya yang besar, tempat yang layak juga tentu harus berdasarkan petunjuk dari Allah SWT. Terbukti, dari sekian banyak sunan-sunan Walisongo tidak semua dapat menyelenggarakan ibadah kholwat.

            Manusia, tak terkecuali seseorang yang telah mengaku beriman kepada Allah seringkali lebih tertarik kepada urusan-urusan yang dapat diindera, sebut saja bisnis, karir, jabatan dan masih banyak lagi tawaran-tawaran yang sulit ditolak karena lebih rasional, menjanjikan untuk kebahagiaan dunia dan seterusnya tetapi hal-hal yang berkaitan dengan akhirat seperti mementingkan kehidupan akhirat melalui berjuang dijalan Allah dengan harta bahkan nyawa maka sedikit sekali manusia yang tertarik. Lantas dimana otentisitas keimanan tersebut? Padahal, ketika seseorang telah memahami hakikat perintah maka yang ada hanyalah kebahagiaan. Bagahia telah dapat menjalankan perintah, bahagia karena telah diberikan kesempatan untuk memenuhi hak-hak orang lain dan bahagia menjadi orang yang terpilih untuk menjalankan perintah-perintahNya. Menurut Syaikhuna, orang yang paling berbahagia adalah orang telah mampu membahagiakan orang lain. Bahagiakan saudaramu, maka engkau akan dibahagiakan olehNya.

            Ketika Majelis Dzikir As-Samawaat mampu melayani umat sekian puluh tahun, sejatinya karena Allah telah mampukan majelis untuk memberikan pelayanan kepada umat. Allah telah memilih majelis sebagai tempat mengadu bagi orang-orang yang berkebutuhan, baik mengadu karena persoalan rumah tangga, penyakit atau urusan-urusan lainnya. Allah telah mempercayakan majelis sebagai tempat atau sumber kebaikan bagi para jamaahnya untuk mengumpulkan amal sholeh sebanyak-banyaknya sebagai manifestasi penghambaan seorang Abdun. Kalaulah bukan karena Rahmat Allah, maka tak mungkin kita bisa bersama-sama berkhidmah di majelis ini.

            Dari milyaran makhluk, hanya jin dan manusia yang diberikan tugas untuk menyembah Allah dengan konsekuensinya. Bahkan Allah SWT dengan tegas mengatakan:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. Diantara penyebab manusia banyak yang masuk neraka disebabkan karena mereka diberikan hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, diberikan mata tetapi tidak digunakan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah bahkan diberikan telinga oleh Allah tetapi digunakan untuk selain kepentingan Allah. Menurut KH. Sa’adih, orang-orang seperti inilah yang digambarkan dalam Al-Qur’an seperti binatang ternak bahkan lebih sesat darinya. Nauzubillah…

Menarik dikaji, kenapa Al-Qur’an mengatakan manusia yang tidak mendayagunakan hati, penglihatan dan pendengarannya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat darinya karena karakter binatang memang bertingkat. Ada yang jinak, ada yang buas dan seterusnya. Manusia adalah makhluk yang kompleks, semua unsur ada didalamnya termasuk karakter kebinatangannya. Ketika Al-Qur’an memberikan penggambaran yang demikian terhadap manusia, maka sejatinya yang demikian itu karena manusia yang teraktualisasi dalam dirinya lebih dominan sifat-sifat kebinatangannya. Bahkan Al-Qur’an mengatakan lebih sesat, terbukti manusia tega membunuh anak atau membuang bayi yang tak berdosa hanya ingin menutupi rasa malunya sementara binatang sekalipun buas tak pernah memakan anaknya sendiri.

Lebih lanjut, diayat selanjutnya Allah menegaskan:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (Al-A’raf, 179). Yang menarik adalah Allah menyuruh menggunakan nama-namaNya dalam berdoa tetapi disuruh berhati-hati jangan sampai terjebak kepada perbuatan Istidraj. Istidraj dalam konteks umum bermakna menggunakan semua nikmat untuk maksiat, tetapi menurut KH. Sa’adih bahwa yang dimaksud Istidraj adalahmenjadikan nama-nama (Asma’) tertentu sebagai media “kesyirikan”. Mereka terjebak kepada praktek-praktek yang menyimpang, bukan kepada menyebut Asma’ nya tetapi kepada niat-niat tertentu yang bertujuan selain ridho Allah SWT.

            Perilaku Istidraj tidak hanya persoalan ingin mendapatkan kekayaan, tetapi juga kesaktian, ketenaran dan lain sebagainya. Praktek-praktek perdukunan yang berkedok agama seringkali menggunakan media ini sebagai jalannya, maka tidak heran banyak orang tersesat jalan karena “amalan-amalan” tertentu yang semuanya diperuntukkan untuk urusan dunia. Inilah pentingnya kita selalu berdoa kepada Allah untuk senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan dariNya karena siapa saja yang diberikan petunjuk maka dia akan mendapatkannya dan sebaliknya siapa saja yang disesatkan maka sebesar apapun kekuatan manusia untuk menghalaunya maka tetaplah ketentuan Allah yang akan berlaku kepadanya. Semoga kita semua semakin Istiqomah dalam kebaikan dan ibadah.