Kajian Surat Ar-Ra’d Ayat 11 dalam Perspektif Sufi: Formula Transformasi Batiniah Seorang Salik dalam Suluknya

I. Pengantar Epistemologis: Ayat 11 dalam Peta Spiritual Islam

A. Konteks Surah Ar-Ra’d dan Hukum Perubahan (Sunnatullah al-Taghyir)

Kajian ini berfokus pada interpretasi mendalam dan esoterik terhadap Surah Ar-Ra’d (13), Ayat 11. Ayat ini menetapkan sebuah hukum universal (Sunnatullah) mengenai kausalitas antara kondisi internal dan nasib eksternal manusia. Teks lengkap ayat tersebut adalah:

    لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١

Terjemahan resminya mencakup dua bagian utama: Pertama, tentang malaikat penjaga (mu’aqqibāt) yang melindungi seseorang atas perintah Allah. Kedua, bagian yang menjadi fokus utama dalam diskursus Tasawuf: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (anfusihim). Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”.   

Ayat ini diklasifikasikan sebagai Ayah Ikhbariyyah (ayat yang bersifat informatif). Ia tidak memberikan metode rinci untuk kebangkitan masyarakat, melainkan menginformasikan tentang hukum Allah mengenai perubahan. Inti dari ayat ini adalah penegasan bahwa perubahan (baik berupa ni’mah—anugerah/kebaikan—atau sū’—keburukan/adzab) bukanlah peristiwa acak, melainkan akumulasi dari tindakan dan, yang lebih penting, kondisi batiniah (mā bi-anfusihim) dari suatu umat manusia atau individu. Hukum kausalitas Ilahi ini berfungsi sebagai pilar fundamental dalam etika spiritual.   

B. Distingsi Metodologis: Tafsir Umum vs. Tafsir Isyari

Penafsiran Ayat 11 secara tradisional terbagi menjadi dua kutub yang berbeda, tergantung pada objek “perubahan” yang difokuskan:

  1. Tafsir Lafziyah (Literal) atau Sosiologis/Politik: Pendekatan ini melihat qawm (kaum) sebagai unit kolektif, seperti bangsa atau masyarakat. Perubahan yang dimaksud (yughayyirū) adalah aksi kolektif, revolusi moral, atau reformasi politik yang luas, seperti upaya untuk mengembalikan sistem pemerintahan Khilafah. Penafsiran ini menekankan bahwa perubahan eksternal (sosial, ekonomi, politik) tidak akan terjadi tanpa perubahan kolektif dalam diri masyarakat.   
  2. Tafsir Isyari (Esoterik/Sufi): Berbeda dengan pendekatan sosiologis, tafsir isyari menggeser fokus dari ranah eksternal ke ranah batiniah, dari qawm (kolektif) kepada salik (individu) yang menempuh jalan spiritual (suluk). Dalam kerangka ini, mā bi-qawmin diinterpretasikan sebagai aḥwāl (keadaan spiritual) dan maqāmāt (stasiun) yang dianugerahkan oleh Allah kepada individu. Sementara itu, mā bi-anfusihim adalah substansi batiniah—jiwa, hati, dan rahasia batin—yang harus diolah dan dimurnikan oleh salik melalui perjuangan intensif (mujāhadah).   

Perbedaan penekanan ini sangat mendasar. Jika penafsiran umum mendorong aktivisme sosial, penafsiran Sufi mendorong aktivisme batin yang intensif. Ayat 11 bagi seorang salik berfungsi sebagai mandat teologis bahwa anugerah spiritual, futuḥ (penyingkapan), atau pencapaian stasiun spiritual yang lebih tinggi tidak akan diberikan tanpa prasyarat mutlak berupa upaya salik untuk secara radikal mengubah substansi batinnya. Ini membuktikan bahwa tradisi Tasawuf, meskipun terlihat introspektif, justru menuntut aktivisme batin yang paling keras.   

Table Perbandingan Tafsir Ar-Ra’d 11

II. Analisis Semantik dan Kosmologi Mā bi-Anfusihim

A. Nafs dalam Kerangka Kosmologi Sufi

Frasa kunci mā bi-anfusihim merujuk pada Nafs (jiwa) dalam diri salik. Dalam konteks 13:11, anfusahum diartikan sebagai kehendak (thawiyah), sanubari (dhamir), dan potensi fundamental jiwa. Allah menganugerahkan Nafs dengan potensi yang seimbang antara kefasikan dan ketakwaan, sebagaimana disiratkan dalam Surah Al-Syams: 7-10. Oleh karena itu, tanggung jawab manusia adalah mengarahkan Nafs tersebut menuju kebaikan, yang merupakan hakikat dari tuntutan perubahan dalam Ayat 11.   

Perjalanan spiritual (suluk) membutuhkan pemahaman yang nuansif mengenai tiga pusat spiritual utama dalam diri manusia: Nafs (Jiwa), Qalb (Hati), dan Sirr (Rahasia Batin).

  1. Nafs (Jiwa): Secara umum merujuk pada pusat hawa nafsu dan sifat-sifat tercela, terutama pada tingkat terendahnya (al-Ammarah). Ia adalah medan pertempuran utama yang harus ditaklukkan.
  2. Qalb (Hati): Adalah pusat kesadaran, keikhlasan, dan tempat di mana cahaya Ilahi mulai diterima. Qalb harus dibersihkan dari ‘kotoran’ Nafs agar dapat berfungsi sebagai penerima wahyu dan inspirasi.
  3. Sirr (Rahasia Batin): Lapisan spiritual terdalam, inti dari kesadaran, yang hanya dapat diakses setelah Nafs dan Qalb dimurnikan total.

Tuntutan yughayyirū mā bi-anfusihim berarti bahwa salik harus memulai perubahan yang bersifat multi-dimensi: dari perilaku lahiriah yang dikendalikan oleh Nafs yang rendah, menuju penguatan Qalb dengan iman dan keikhlasan, hingga mencapai penyucian Sirr, yang menandai penyelarasan total dengan Kehendak Ilahi.

B. Tingkatan Nafs sebagai Gradien Perubahan Diri

Bagi saliksuluk adalah proses evolusi hierarkis yang melewati berbagai tingkatan Nafs. Setiap langkah salik menuju tingkat yang lebih tinggi adalah realisasi praktis dari perintah Ilahi untuk “mengubah apa yang ada dalam diri mereka.”

Tingkatan Nafs (seperti yang diklasifikasikan dalam tradisi Sufi) menggambarkan gradien perubahan batin yang dituntut oleh Ayat 11 :   

  1. Nafs al-Ammarah bis Su’ (Jiwa yang Mendorong Kejahatan): Ini adalah keadaan paling rendah dan merupakan sumber dosa dan hawa nafsu. Keadaan ini adalah kondisi batiniah yang wajib diubah oleh salik.   
  2. Nafs al-Lawwamah (Jiwa yang Mencela): Pada tahap ini, salik mulai memiliki kesadaran, penyesalan, dan keinginan untuk melawan Nafs al-Ammarah. Ini menandai dimulainya mujahadah yang tulus.   
  3. Nafs al-Muthma’innah (Jiwa yang Tenang): Ini adalah puncak kualitas perkembangan jiwa manusia yang telah mencapai iman kokoh dan tidak lagi didominasi oleh dorongan jahat. Pencapaian tingkat ini merupakan suksesnya perubahan batin yang signifikan, memenuhi janji perubahan dalam Ayat 11.   
  4. Nafs al-Radhiyah (Jiwa yang Ridha) dan Al-Mardhiyyah (Jiwa yang Diridhai): Tingkat tertinggi di mana salik menerima segala ketetapan Allah, baik yang menyenangkan maupun sū’ (keburukan), tanpa keluhan, menandai penyerahan diri yang sempurna.   

C. Ayat 11 dan Konfirmasi Teologi Istitha’ah

Ayat Ar-Ra’d 11 memiliki implikasi teologis yang mendalam mengenai tanggung jawab dan kemampuan manusia. Dalam diskursus teologi Islam, ayat-ayat seperti ini (bersama dengan Ali Imran 164) sering digunakan untuk menegaskan konsep istitha’ah (kemampuan/kesanggupan).   

Pernyataan “sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” menunjukkan bahwa perubahan Ilahi (mā bi-qawmin) dikondisikan pada upaya manusia (hattā yughayyirū). Ini menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak bebas (irādah) dan kemampuan (fi’il) untuk memulai tindakan yang transformatif secara spiritual.   

Dalam konteks Tasawuf, konsepsi perubahan diri ini adalah penegasan praktis terhadap kehendak bebas manusia dalam menentukan nasib spiritualnya. Jika seorang salik menunggu anugerah dan penyingkapan spiritual (futuḥ) tanpa melakukan upaya mujāhadah, ia telah menempatkan dirinya dalam kategori self-deception (penipuan diri). Ayat 11 membatalkan anggapan bahwa Tasawuf adalah pasif fatalistik; sebaliknya, ia menjadikannya disiplin yang paling aktif secara batiniah, di mana kebebasan manusia harus digunakan untuk berjuang sebelum Ma’rifatullah dapat terwujud.   

III. Metodologi Suluk: Mujāhadah sebagai Implementasi Ar-Ra’d 11

A. Mujahadah dan Riyadhah: Menjawab Perintah Perubahan

Mujahadah (perjuangan spiritual yang sungguh-sungguh) dan Riyadhah (latihan spiritual) adalah metodologi inti yang digunakan oleh salik untuk memenuhi tuntutan Ayat 11. Secara terminologi, mujāhadah berarti mengerahkan seluruh kemampuan dan bekerja keras dengan tulus untuk mencapai kebaikan spiritual. Ini adalah sarana praktis bagi salik untuk mewujudkan perintah yughayyirū mā bi-anfusihim.   

Berbeda dengan jihad yang memiliki cakupan lebih luas (termasuk perjuangan fisik), mujāhadah secara spesifik merujuk pada perjuangan spiritual non-fisik melawan hawa nafsu (Nafs al-Ammarah) dan peningkatan kualitas ibadah.   

Pilar-pilar Mujahadah yang diterapkan dalam suluk (seringkali dalam konteks tarekat atau pesantren) meliputi:

  1. Peneguhan keyakinan (syahadat).
  2. Pelaksanaan kewajiban agama (fardhu) secara tepat waktu dan sempurna.
  3. Peningkatan ibadah sunah rutin, seperti Sholat TasbihSholat HajatSholat Taubat, dan dzikir.   

Aktivitas ibadah sunah yang rutin ini—yang merupakan medium utama mujāhadah—adalah upaya konkret yang harus dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten, sebagaimana diisyaratkan oleh sifat perubahan yang terjadi secara bertahap dalam Ayat 11.   

B. Tri-Siklus Transformasi (Takhalli, Tahalli, Tajalli)

Proses Mujahadah diatur melalui tiga tahapan sistematis yang memastikan perubahan internal bersifat radikal dan fundamental, bukan sekadar perbaikan kosmetik. Urutan ini penting: Takhalli harus mendahului Tahalli agar hati benar-benar siap menerima anugerah Tajalli.   

  1. Takhalli (Pengosongan Diri): Ini adalah langkah pertama dan paling krusial, yang berarti membersihkan diri (membersihkan diri) dari segala pikiran, sifat, dan perilaku tercela. Contohnya termasuk menghilangkan riyā’ (pamer), takabbur (sombong), dan hasad (dengki). Takhalli adalah implementasi langsung dari Mujahadah yang bertujuan untuk menyingkirkan dominasi Nafs al-Ammarah dan menghilangkan penghalang spiritual (hijab) yang menghalangi cahaya Ilahi masuk ke dalam Qalb. Kegagalan dalam tahapan Takhalli menyebabkan stagnasi spiritual (futūr). Jika seorang salik mengalami stagnasi dalam maqam-nya, ini adalah refleksi batin bahwa ada ‘kotoran’ (mā bi-anfusihim) yang belum disingkirkan, dan dengan demikian, Allah belum mengubah keadaannya (mā bi-qawmin).   
  2. Tahalli (Penghiasan Diri): Setelah hati dikosongkan, salik mengisi Qalb dengan sifat-sifat terpuji (seperti ikhlas, sabar, dan zuhud). Proses ini dicapai melalui peningkatan ibadah dan dzikir yang berkelanjutan. Dzikir (mengingat Allah) adalah upaya esensial untuk membangun koneksi spiritual (muraqabah) dan menenangkan hati, sesuai dengan Surah Ar-Ra’d: 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Tahalli mentransformasi Nafs al-Lawwamah menuju tingkat yang lebih tinggi.   
  3. Tajalli (Penyingkapan Ilahi): Ini adalah pengalaman spiritual tertinggi, di mana upaya salik tidak sia-sia, melainkan menghasilkan penyingkapan cahaya ketuhanan (nur ma’rifah) dalam hati yang telah bersih. Tajalli adalah manifestasi perubahan yang dijanjikan Allah (mā bi-qawmin), di mana keadaan spiritual salik diubah dari terhijab menjadi tercerahkan.   

Table Ayat Ar-Ra’d 11 dan Metodologi Tiga Pilar (Mujahadah)

IV. Puncak Perubahan: TajalliMaqamat, dan Rida Terhadap Ketetapan Ilahi

A. Tajalli dan Manifestasi Perubahan Ilahi

Tajalli menandai titik di mana janji Ilahi dalam Ayat 11 diwujudkan dalam diri salik. Ketika salik telah menyelesaikan pemurnian diri secara tulus dan konsisten, Allah mengubah keadaannya, menganugerahkan pengalaman spiritual yang lebih tinggi.

Pencapaian utama dalam Tajalli adalah Maqam Ihsan atau Muraqabah (kesadaran diawasi Allah). Muraqabah adalah keyakinan yang tertanam dalam hati bahwa Allah senantiasa Maha Hadir (Hadiran) dan Maha Melihat (Nazhiran). Ini adalah realitas tertinggi yang dicapai melalui mujāhadah yang gigih. Salik yang mencapai Muraqabah hidup dalam kesadaran transendental yang mempermudah kepatuhan dan menjauhkan diri dari dosa. Keadaan spiritual yang baru ini—ketenangan batin, kebahagiaan, dan ma’rifah—adalah bentuk perubahan mā bi-qawmin yang dianugerahkan sebagai hasil dari perubahan mā bi-anfusihim.   

B. Nafs al-Muthma’innah dan Rida: Merespons Takdir (Qadar)

Ayat 11 terdiri dari dua bagian yang, secara superfisial, tampak bertentangan: kebebasan memilih untuk berubah (istitha’ah) di awal, dan takdir mutlak (jabar) di akhir. Paruh kedua ayat berbunyi: “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”.   

Bagi salik, “keburukan” (sū’an) yang dihendaki Allah dapat berupa cobaan, kesulitan hidup, atau kemunduran spiritual. Jawaban Sufistik terhadap determinisme absolut di paruh kedua ayat ini dicapai pada maqam spiritual tertinggi, yaitu Rida (keridhaan).   

Ketika salik berhasil mencapai Nafs al-Radhiyah (Jiwa yang Ridha) dan Al-Mardhiyyah (Jiwa yang Diridhai), ia telah mengubah kondisi batinnya secara total. Pada tingkat ini, salik secara tulus menerima segala ketetapan Ilahi—baik nikmat maupun musibah. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, atau kekesalan, karena jiwanya telah selaras dengan Kehendak-Nya (Taslim).   

Inilah sintesis teologis yang ditawarkan oleh Tasawuf terhadap Ayat 11:

  1. Tahap Awal: Salik harus menggunakan kehendak bebasnya (istitha’ah) untuk berjuang (mujāhadah) dan membersihkan diri (yughayyirū mā bi-anfusihim).
  2. Tahap Akhir: Salik harus menerima kenyataan bahwa takdir Ilahi bersifat mutlak (falaa maradda lah) dengan mencapai Maqam Rida.   

Ayat 11, bagi seorang salik, adalah formula lengkap bagi keselamatan spiritual: kewajiban berusaha (kasb) melalui mujāhadah diikuti oleh kewajiban menerima (rida) terhadap segala takdir yang telah ditetapkan Allah.

Table Tingkatan Nafs: Respons Sufistik terhadap Kausalitas Ar-Ra’d 11

V. Kesimpulan dan Implikasi Amaliyah Bagi Salik

Kajian terhadap Surah Ar-Ra’d Ayat 11 dari perspektif suluk menunjukkan bahwa ayat ini adalah landasan teologis yang memvalidasi dan mewajibkan seluruh metodologi praktis dalam Tasawuf. Penafsiran esoterik mengalihkan makna qawmin dan anfusihim dari ranah sosial-politik ke ranah spiritual-individual, menjadikan ayat ini sebuah aksioma spiritual yang fundamental.

Tuntutan “mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri” (yughayyirū mā bi-anfusihim) dipahami sebagai proses Tazkiyatun Nafs (pemurnian jiwa) yang bersifat non-negosiable. Hukum Ilahi yang ditetapkan dalam ayat ini menuntut salik untuk secara aktif dan gigih memulai perjuangan batin (mujāhadah) agar layak menerima perubahan keadaan spiritual yang lebih baik (mā bi-qawmin). Tanpa upaya yang didasarkan pada kehendak bebas manusia (istitha’ah), anugerah Ilahi tidak akan turun.   

Implikasi Amaliyah (Praktis) bagi Salik

Bagi seorang salik, Ayat 11 bukan sekadar teori, melainkan panduan operasional dalam menempuh jalan spiritual:

  1. Fokus pada Takhalli yang Radikal: Salik harus secara terus-menerus mengevaluasi dan membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela. Stagnasi spiritual harus diartikan sebagai kegagalan dalam menghilangkan ghayr Allāh (selain Allah) dari Qalb.
  2. Rutinasi Riyadhah dan Dzikir: Tahalli diwujudkan melalui pengamalan ibadah sunah dan dzikir secara konsisten (seperti Sholat Tasbih dan Dzikir rutin) yang bertujuan untuk membangun muraqabah (kesadaran akan kehadiran Ilahi).   
  3. Pencapaian Rida sebagai Tujuan Akhir: Setelah berjuang sekuat tenaga, salik harus mengarahkan jiwanya menuju Nafs al-Radhiyah. Ini adalah kondisi tertinggi di mana ia dapat menerima segala ketetapan takdir, termasuk “keburukan” (sū’an), tanpa keluhan atau penolakan. Proses suluk adalah siklus berkelanjutan dari perjuangan batin untuk mengubah diri, yang pada akhirnya berakhir pada penyerahan diri yang sempurna kepada Kehendak Ilahi.

Referensi

myislam.orgSurah Ar-Ra’d Ayat 11 (13:11 Quran) With Tafsir – My IslamTerbuka di jendela baruquranweb.idTerjemahan dan Tafsir Quran surah Ar-Ra’d ayat 11 dalam Bahasa IndonesiaTerbuka di jendela baruquranreflect.comYasmin Mogahed’s Reflection on Surah Ar-Ra’d:11 | QuranReflectTerbuka di jendela baruislamicsystem.blogspot.comTafseer of Surah ar-Ra’ad, Ayah 11 – Islamic RevivalTerbuka di jendela baruacademyofislam.comReflection No. 235 on Q 13: 11 – Social Change – The Academy for Learning IslamTerbuka di jendela baruquransmessage.comTafseer of Surah Ar Ra’ad Verse 11 – Quran’s MessageTerbuka di jendela baruquran.comTafsir Surah Ar-Ra’d – 11 – Quran.comTerbuka di jendela baruscribd.comSHEIKH_SALMAN_DAIM_AND_Terbuka di jendela barujournal.uinjkt.ac.idAJARAN, PENGAMALAN, DAN MAQAMAT TASAWUF Oleh: Iqbal Firdaus Iqbal.firdaus13@mhs.uinjkt.ac.id AbstrakTerbuka di jendela barumedia.neliti.comTeuku Wildan – NelitiTerbuka di jendela barurepository.uin-malang.ac.id14764 .pdf – Repository UIN MalangTerbuka di jendela barurepository.nur.ac.id45 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan …Terbuka di jendela baruliputan6.comMujahadah Adalah: Pahami Bentuk, Manfaat, dan Implementasi dalam KehidupanTerbuka di jendela barual-islam.orgSurat Ar-Ra’d 13 : 11 | Al-Islam.orgTerbuka di jendela baruresearchgate.net(PDF) SHEIKH SALMAN DAIM AND THE TAREKAT OF NAQSYABANDIYAH AL-KHOLIDIYAH JALALIYAH – ResearchGateTerbuka di jendela barupusdikra-publishing.comKhazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4, Nomor 3, Agustus 2025 – Jurnal PusdikraTerbuka di jendela baru

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *