Menjadi Batu Karang

Saudaraku, para pejuang cahaya.

Jalan ini bukan jalan yang bertabur bunga. Ini jalan para lelaki sejati (Rijalullah).

Akan datang masa di mana engkau merasa sendiri. Akan datang masa di mana doamu seolah tak didengar. Akan datang badai ujian yang menghantam.

Di saat itulah, engkau butuh Istiqamah.

Jadilah seperti batu karang di tengah lautan. Ombak menghantam setiap detik, badai menerjang setiap musim, tapi karang itu tetap berdiri tegak, diam, dan tenang. Ia tidak bergeser satu inci pun.

Mengapa? Karena ia menyatu dengan bumi.

Jadilah hamba yang menyatu dengan Kehendak Allah. Biarkan dunia berubah, biarkan musim berganti, biarkan orang datang dan pergi, tapi engkau tetap berdiri di atas sajadah pengabdianmu.

Ingatlah janji Allah yang sangat indah bagi mereka yang Istiqamah:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (Istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fussilat: 30)

Baca juga : Teguran Alam Semesta Akibat Tangan Manusia dalam Perspektif Ekoteologi

Malaikat akan turun menjadi Cheerleader (penyemangat) bagi orang yang Istiqamah, menghapus air mata mereka, dan menuntun mereka ke karpet merah surga.

Maka, Fastaqim. Tetaplah tegak.

Lelah itu biasa. Berhenti itu dosa (dalam tarekat). Istirahatlah sejenak jika kakimu sakit, tapi jangan pernah berbalik arah.

Karena surga itu hanya selangkah lagi, di balik dinding kematian yang bisa runtuh sewaktu-waktu.

Pastikan saat dinding itu runtuh, engkau sedang berdiri tegak menghadap-Nya.

Wallahu a’lam bis shawab.

Edisi lengkapnya di Buku Suluk Jalan Ruhani Menuju Allah